Nih, jujur ya… sebagai sesama pengusaha UMKM, urusan pajak itu sering bikin malas. Apalagi pas denger kabar kalau sistem DJP Online yang lama diganti ke Portal Coretax. Bayangan pertama pasti: “Aduh, ribet lagi nih pelajari aplikasinya dari nol!”
Tapi santai dulu. Setelah saya coba praktikkan sendiri untuk usaha saya, ternyata sistem Coretax ini jauh lebih ringkas kalau kita sudah paham alurnya.
Nah, di sini saya mau bagi pengalaman langsung cara hitung dan bayar Pajak UMKM 0,5% (PPh Final) di sistem baru Coretax tanpa perlu bayar jasa konsultan pajak.
Coba cek dulu bentuk usaha dan omset bulananmu. Berdasarkan aturan yang berjalan, kita berhak pakai tarif super murah 0,5% ini kalau:
Kabar Baik untuk Usaha Perorangan: Kalau usahamu masih atas nama pribadi, omset sampai Rp 500 Juta PERTAMA dalam sebulan/setahun itu BEBAS PAJAK (0%). Kamu baru bayar 0,5% dari sisa kelebihan omsetnya. Lumayan banget hematnya!
Rumusnya cuma satu: Total Omset Kotor x 0,5%. Ingat ya, dari penjualan kotor, bukan dari untung bersih!
Misal kamu punya warung/toko online atas nama sendiri:
(Nanti di bulan September dan seterusnya, karena jatah bebas pajak Rp 500 jutanya sudah habis, semua omset bulan berjalan langsung dikalikan 0,5%).
Kalau usahamu sudah PT atau CV, aturan batas bebas Rp 500 juta ini tidak berlaku.
Masukkan total penjualan/omset kotor usaha Anda bulan ini untuk melihat nominal pajak yang wajib disetor.
Dulu kita harus bolak-balik buka menu di DJP Online, sekarang di Coretax semuanya sudah jadi satu dashboard. Ini step-by-step yang biasa saya lakukan tiap bulan:
Kode Billing ini mirip kaya kita belanja di e-commerce. Kamu tinggal bayar lewat:
Batas waktu penyetoran pajak UMKM ini adalah tanggal 15 di bulan berikutnya. Misal pajak untuk omset bulan Agustus, wajib kamu bayar paling lambat tanggal 15 September.
Jujur, makin ke sini urusan pajak UMKM makin dibuat gampang sama pemerintah. Jadi ketimbang was-was kena denda atau tagihan bengkak di belakang, mending kita sisihkan 0,5% tiap akhir bulan dan bayar sendiri secara rutin. Selamat mencoba!
Pernah dengar cerita tetangga sebelah atau sesama pedagang yang mau minjam KUR ke bank tapi…
Setiap awal tahun anggaran, Pemerintah Desa di seluruh Indonesia memiliki kewajiban besar: mempublikasikan transparansi Anggaran…
Pernah kehabisan waktu di tempat umum hanya karena dompet tertinggal di rumah, padahal Anda harus…
Kartu Keluarga (KK) bukan sekadar selembar kertas biasa. Dokumen kependudukan ini adalah "kunci utama" yang…
Kebanyakan kesalahan “NIK (Nomor Induk Kependudukan) tidak terdaftar” atau “tidak valid” muncul saat mengajukan layanan…
Dulu saya sering mendengar pertanyaan seperti ini: “Untuk apa desa punya website? Kan sudah ada…
This website uses cookies.