Digitalisasi pelayanan publik selama ini dipromosikan sebagai solusi untuk mempercepat, mempermudah, dan meningkatkan transparansi layanan kepada masyarakat. Di atas kertas, semuanya tampak ideal. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit masyarakat yang justru masih menghadapi proses yang berbelit, lambat, bahkan membingungkan.
Sebagai seseorang yang pernah terlibat langsung dalam pemerintahan desa sekaligus aktif di berbagai organisasi sosial, saya melihat persoalan ini bukan sekadar isu teknis, tetapi persoalan sistemik. Pelayanan publik memang sudah mulai bertransformasi ke arah digital, tetapi pengalaman masyarakat menunjukkan bahwa perubahan tersebut belum sepenuhnya menyentuh akar masalah.
Kualitas SDM Sudah Baik, Tapi Belum Cukup
Dalam pelayanan administrasi kependudukan di tingkat kecamatan, kualitas sumber daya manusia sebenarnya sudah cukup baik. Aparatur memiliki latar belakang pendidikan yang memadai dan mampu menjalankan tugasnya dengan profesional. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kualitas SDM saja tidak cukup untuk menciptakan pelayanan yang optimal.
Masalah Sistem dan Infrastruktur
Masalah yang paling sering muncul justru berasal dari sistem dan infrastruktur. Kerusakan alat perekaman e-KTP, misalnya, bukan hanya persoalan teknis sederhana. Ketergantungan pada pemerintah pusat dalam proses perbaikan membuat pelayanan di tingkat lokal menjadi lambat dan tidak fleksibel.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan karena harus menunggu tanpa kepastian.
Prosedur Masih Kaku dan Kurang Adaptif
Selain itu, prosedur administratif yang kaku juga masih menjadi hambatan klasik. Tidak adanya dokumen seperti kartu keluarga atau surat pindah alamat dapat langsung menghentikan proses pelayanan.
Bagi masyarakat, kondisi ini sering kali terasa tidak solutif. Mereka datang dengan harapan mendapatkan kemudahan, tetapi justru dihadapkan pada aturan yang sulit dinegosiasikan.

Ilustrasi pelayanan publik digital di desa yang masih mengalami kendala
Kepuasan Ada, Tapi Bukan Karena Sistem
Menariknya, di tengah berbagai kendala tersebut, tingkat kepuasan masyarakat masih tergolong cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan personal dari aparatur—seperti keramahan, empati, dan kesediaan membantu—masih menjadi faktor utama dalam membentuk persepsi pelayanan.
Namun, ketergantungan pada faktor personal ini tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang.
Digitalisasi Harus Diikuti Perubahan Sistem
Digitalisasi seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai penggunaan teknologi, tetapi juga sebagai perubahan cara kerja birokrasi. Tanpa perbaikan sistem yang menyeluruh, digitalisasi hanya akan menjadi lapisan tambahan dari masalah yang sudah ada.
Sebagai mantan kepala desa, saya memahami bahwa pemerintah di tingkat bawah sering kali berada dalam posisi yang tidak mudah. Oleh karena itu, pembenahan pelayanan publik harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya di tingkat pelaksana, tetapi juga pada level kebijakan.
Penutup
Pada akhirnya, tujuan utama pelayanan publik adalah memberikan kemudahan, bukan menambah beban masyarakat. Digitalisasi seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Jika masyarakat masih merasa ribet, maka ada yang perlu diperbaiki secara serius.
Pertanyaannya sederhana: jika pelayanan sudah digital, mengapa masyarakat masih merasa ribet?
